Monday, June 25, 2018

Saya Males Main ke PRJ

Saya Males Main ke PRJ

Pekan Raya jakarta (PRJ) 2018 tinggal hitungan hari, tetapi saya enggak ada niat sedikit pun buat berkunjung ke sana. Bukan karena harga tiketnya, tapi ada alasan lain mengapa saya enggan ke PRJ.

Sebab tahun kemarin saya sudah ke sana dan saya agak kapok. Bukan kapok karena apa-apa ya... tapi karena saya pikir PRJ bukan tempat yang cocok buat travelling.

Di tambah lagi cerita dari adik ipar, bahwa PRJ tahun ini enggak kayak PRJ tahun lalu. Karena biasanya ada perwakilan dari daerah tahun ini enggak.

"PRJ berubah konsep, dan kurang menarik" kata ipar saya.

ini merupakan pengalaman ke PRJ  di tahun 2017 kemarin.

Saya Males Main ke PRJ

Saat PRJ sedang berlangsung, dapat kita ketahui dengan mudah. saat kamu melintas di jalan Benyamin syueb sore hari, dan menemui banyak tukang kerak telor berjejer itu tandanya PRJ sedang di buka.

PRJ tahun 2018 ini di gelar mulai 23 Mei sampai 1 Juli.

Namun saya enggak akan cerita panjang lebar. saya cuma mau liatin suasana PRJ tahun 2017.

yukkk.. ah...

Saya Males Main ke PRJ

ini suasana luar PRJ tahun lalu, saya enggak ngerti kenapa bapak itu main musik di luar situ. Sebab enggak sempet nanya sih. 😁

Saya Males Main ke PRJ

Ini pintu masuk saya tahun lalu di zona ungu. tapi saya enggak parkir motor di sini. alasannya di bawah ini.
Baca juga : Ke PRJ mesti Paham Zona parkir kalo gak mau di ping - pong

Saya Males Main ke PRJ

Setelah beli tiket sepeti biasa, saat masuk akan di periksa oleh petugas di sini.

Saya Males Main ke PRJ

Di sini juga ada mobil wara-wiri, tapi ngantri banget. dan cuma di titik-titik tertentu aja berhentinya. jadi saya dan keluarga milih jalan kaki.

emang seharusnya jalan kaki sih, jadi bisa liat-liat tiap stand dengan jelas.

Saya Males Main ke PRJ
Saya Males Main ke PRJ

Menurut saya yang paling menarik cuma di bagian otomotif aja di PRJ. Sebab banyak di pajang motor dan mobil keluaran terbaru.

Saya Males Main ke PRJ

ini suasana di outdoornya, menurut saya lebih enak di malam hari kalau kesini lebih cantik viewnya, sebab kalau siang hari bisa aja mataharinya terik dan panas.

Saya Males Main ke PRJ

agak penuh dan sesak di beberapa lokasi. Tapi masih nyaman sih.

Saya Males Main ke PRJ

Kemana mata memandang akan di temui label diskon, yang ini sampai 90%, dan yang beli pasti rame.

Saya Males Main ke PRJ

Bener kan sejauh mata memandang akan di temui label diskon.

Menurut saya ini nih alasan utama saya males ke PRJ, karena label diskonnya bikin ngiler. dan duit yang di bawa serasa engak cukup buat ngeborong barang yang rata-rata diskon itu.

efeknya saya cuma bisa beli sandal gunung doang. karena harus berbagi jatah uang dengan kumendan dan anak-anak.

Makannya saya males ke PRJ lagi. kalau cuma bawa duit dikit. 😁

Monday, June 11, 2018

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

Langkah kaki saya tertinggal jauh, oleh anak istri, ibu mertua dan Bude, sungguh kali ini saya masih menemani pakde saya dengan langkah kecilnya.

Maklum pakde saya sedang di beri ujian penyakit stroke di kali dan tangan kirinya. Tapi dengan langkah pakde yang lamban ini saya bisa menikmati perjalanan dari parkiran menuju masjid.

mengabadikan perjalanan dengan kamera oppo neo-5 kesayangan saya.

kali ini langkah kami berlabuh di sebuah mesjid yang konon terbesar se asia tenggara. namanya Masjid Istiqlal.



Sekilas Tentang Istiqlal

Masjid Istiqlal (arti harfiah: Masjid Merdeka) adalah masjid nasional negara Republik Indonesia yang terletak di bekas Taman Wilhelmina, di Timur Laut Lapangan Medan Merdeka yang di tengahnya berdiri Monumen Nasional (Monas), di pusat ibukota Jakarta. 

Di seberang Timur masjid ini berdiri Gereja Katedral Jakarta. Imam besarnya adalah Prof. Dr. Nasaruddin Umar, M.A. dan Ketua Badan Pelaksana Pengelola Masjid Istiqlal sekarang adalah K.H. Muhammad Muzammil Basyuni.

Pembangunan masjid ini diprakarsai oleh Presiden Republik Indonesia saat itu, Ir. Soekarno. Peletakan batu pertama sebagai tanda dimulainya pembangunan Masjid Istiqlal dilakukan oleh Ir. Soekarno pada tanggal 24 Agustus 1951. 


Arsitek Masjid Istiqlal adalah Frederich Silaban, seorang Kristen Protestan.

Masjid ini memiliki gaya arsitektur modern dengan dinding dan lantai berlapis marmer, dihiasi ornamen geometrik dari baja antikarat. Bangunan utama masjid ini terdiri dari lima lantai dan satu lantai dasar. 


Bangunan utama itu dimahkotai satu kubah besar berdiameter 45 meter yang ditopang 12 tiang besar. Menara tunggal setinggi total 96,66 meter menjulang di sudut Selatan selasar masjid. Masjid ini mampu menampung lebih dari 200.000 jamaah.

Selain digunakan sebagai aktivitas ibadah umat Islam, masjid ini juga digunakan sebagai kantor berbagai organisasi Islam di Indonesia, aktivitas sosial, dan kegiatan umum. Masjid ini juga menjadi salah satu daya tarik wisata yang terkenal di Jakarta. 


Kebanyakan wisatawan yang berkunjung umumnya wisatawan domestik di samping sebagian wisatawan asing yang beragama Islam. 

Masyarakat non-Muslim juga dapat berkunjung ke masjid ini setelah sebelumnya mendapat pembekalan informasi mengenai Islam dan Masjid Istiqlal, meskipun bagian yang boleh dikunjungi kaum non-Muslim terbatas dan harus didampingi pemandu.
 #Wikipedia 


Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

di pelataran pintu masuk masjid, terdapat banyak pedagang makanan ringan dan minuman mineral, agak sumpek juga saya liatnya. sebab jadi agak semrawut pintu masuknya.

beberapa kali saya dengar para pedagang yang membandel di beri peringatan untuk memberi ruang plewat bagi para pengunjung.

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

di sini para pengunjung di haruskan melepas alas kaki, dan di sini pula para penjual kantong plastik menawarkan kantong plastik untuk wadah sendal.

"Biar gak ilang" katanya.

benar juga sih, kalu tidak di masukkan wadah kantong, bisa-bisa yang kanan sama kiri tercercer saat di titipkan. dan untuk memudahkan menitipkan beberapa sandal dalam satu wadah.

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

nah di sini nih yempat penitipannya."Gratis" tulisnnnya gede banget.

dan di sini anak saya nyeloteh. "Wah... masjidnya kayak mal."

saya enggak ngerti maksudnya, mungkin karena baru pertama kali dia melihat masjid seramai ini dan seluas ini. jadi mirip di mal pikirnya.

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

Tempat wudu pria masjid istiqlal.

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

Lantai 2 atau lorong koridor tempat sholat. di lorong ini terdapat pedagang di kanan dan kirinya. ini juga yang mungkin bagi anak saya mirip mal.

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

Yang di jual di sini, macem-macem, mulai dari baju, makanan, buku minyak wangi dll.

Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.


Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.


Masjid Istiqlal, kayak Mal kata Anak Saya.

Thursday, June 7, 2018

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Ini adalah lanjutan dari tulisan sebelumnya: Birthday Surprises from 377,297 Feet. namun ini adalah versi cerita tentang monas-nya. 

Monas merupakan tempat wisata yang gak asing. apalagi buat orang jakarta. malahan kalau ada waktu senggang, minggu pagi saya dan keluarga suka berolah raga di sini.

Enggak ada yang berubah di monas. Yang ada, perubahan dari waktu-kewaktu cuma kebijakan kepada para penjual di sekitar monas. yang dulu bisa berjualan di dalam kini sudah tidak boleh lagi.




Tugu Monas adalah monumen peringatan setinggi 132 meter (433 kaki) yang didirikan untuk mengenang perlawanan dan perjuangan rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Hindia Belanda. 

Pembangunan monumen ini dimulai pada tanggal 17 Agustus 1961 di bawah perintah presiden Sukarno, dan dibuka untuk umum pada tanggal 12 Juli 1975. 

Tugu ini dimahkotai lidah api yang dilapisi lembaran emas yang melambangkan semangat perjuangan yang menyala-nyala. Monumen Nasional terletak tepat di tengah Lapangan Medan Merdeka, Jakarta Pusat.

Tugu Peringatan Nasional ini dibangun di areal seluas 80 hektare
  #wikipedia

Monumen dan museum ini dibuka setiap hari mulai pukul 08.00 - 15.00 WIB. 
Pada hari Senin pekan terakhir setiap bulannya ditutup untuk umum.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Memasuki tugu monas bukan perkara mudah. perlu tenaga extra karena jarak dari parkiran menuju tugunya lumayan jauh. Apalagi waktu itu kami membawa pakde yang kebetulan terkena stroke. jadi ya harus sabar menunggu. mengikuti pakde yang melangkah pelan.

Karena jalan-jalan ini, memang dalam rangka mengantar pakde yang pingin liat monas, sebelum kembali ke Semarang. karena menurutnya seumur-umur belum pernah masuk monas.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Sebetulnya ada fasilitas mobil gratis wara-wiri, tapi itu khusus yang lewat parkir IRTI, mobil wara-wiri ini tidak bisa berhenti sembarangan jadi cuma mengangkut dan menurunkan penumpang di titik yang sudah di tentukan.

Karena parkiran IRTI penuh, saya parkir di stasiun gambir.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Akhirnya sampai juga deh, di pintu masuk tugu Monas. Untuk memasuki tugu-nya harus memasuki jalan ini. dan loket berada di dalam lorongnya.

Kursi Roda untuk orang tua yang kurang sehat

Oh iya... karena jalannya menuruni dan menaiki tangga. Maka pakde saya di perbolehkan melalui jalan pintas. Melalui gerbang samping tugu, dengan meminjam kursi roda dan ijin security di sini.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Yang sehat bisa melalui tangga ini menuju loket.

Harga Tiket.

Dewasa Rp. 20.000,-
Anak-anak Rp. 10.000,-

Pelataran Puncak
Dewasa Rp. 7500,-
Anak-anak Rp. 3500,-

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Lorong bawah tanahnya lumayan instagramable. gak tau kenapa banyak yang suka foto di sini.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Waktu itu saya menggunakan kartu jackcard dan deposit di loket. lalu kartu di tap di pintu ini.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Perjuangan belum berakhir sodarah... sodarah...

Setelah berjuang dari parkiran jalan kaki menuju tugunya. kita masih harus ngantri lagi kalau mau sampai pelataran puncak monas.

total waktu yang di butuhkan untuk mengantri sampai di depan lift kurang lebih 2 jam. yup... saya berdiri selama itu.

Tapi enggak juga sih. Saat kaki mulai pegel, saya pilih duduk di lantainya aja.

Sempat terjadi kericuhan. saat rombongan sekolah dari daerah mengantri di sini. saat mereka mengantri belum membeli tiket masuk pelataran puncak. Mereka cuma punya tiket monas aja.

Yang bikin keki. hal ini mereka ketahui saat sudah mengantri berjam-jam. dan tepat di detik-detik terakhir saat memasuki lift. Dan baru ketahuan, Saat petugas memeriksa tiket mereka.

Jadi agak bawel tanya sana-sini perlu sih... dari pada diem tapi sok tau.


Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Bagi pengguna kartu jackcard seperti saya, cukup serahkan kartu ke petugas dan petugas akan menghitung sejumlah orang yang akan naik.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Sampai di atas monas merupakan kebanggan tersendiri, terutama bagi pakde dan bude saya. karena setelahnya mereka bisa bercerita di kampung tentang pengalaman mereka di tugu monas kepada sanak saudara maupun tetangga.

lumayan... dapet oleh-oleh cerita. 😁

ehh... tunggu dulu, itu istri saya ternyata sedang siapin speaker buat kejutan ulang tahun. saya malah enggak ngeh... saking sibuknya foto foto.😅

View yang dapat dilihat dari pelataran puncak Monas


Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Museum Sejarah Nasional


Di bagian dasar monumen pada kedalaman 3 meter di bawah permukaan tanah, terdapat Museum Sejarah Nasional Indonesia. 

Ruang besar museum sejarah perjuangan nasional dengan ukuran luas 80 x 80 meter, dapat menampung pengunjung sekitar 500 orang. 

Ruangan besar berlapis marmer ini terdapat 48 diorama pada keempat sisinya dan 3 diorama di tengah, sehingga menjadi total 51 diorama. 
Diorama ini menampilkan sejarah Indonesia sejak masa pra sejarah hingga masa Orde Baru. 

Diorama ini dimula dari sudut timur laut bergerak searah jarum jam menelusuri perjalanan sejarah Indonesia; mulai masa pra sejarah, masa kemaharajaan kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit, disusul masa penjajahan bangsa Eropa yang disusul perlawanan para pahlawan nasional pra kemerdekaan melawan VOC dan pemerintah Hindia Belanda. 

Diorama berlangsung terus hingga masa pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20, pendudukan Jepang, perang kemerdekaan dan masa revolusi, hingga masa Orde Baru pada masa pemerintahan Suharto.
 #Wikipedia

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Ruangan di dalam sini sejuk loh. pengunjung bisa duduk-duduk sambil ngemil atau sekedar minum. Tapi hal itu gak berlaku bagi saya. keluarga saya membawa makanan kecil lengkap dengan nasi dan lauk-pauknya sampai buah dan makanan penutup. Layaknya piknik.

Daripada jajan di luar. lumayan kan bisa ngirit. 😄

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Relief Sejarah Indonesia


Pada tiap sudut halaman luar yang mengelilingi monumen terdapat relief yang menggambarkan sejarah Indonesia. 

Relief ini bermula di sudut timur laut dengan mengabadikan kejayaan Nusantara pada masa lampau; menampilkan sejarah Singhasari dan Majapahit. 

Relief ini berlanjut secara kronologis searah jarum jam menuju sudut tenggara, barat daya, dan barat laut. 

Secara kronologis menggambarkan masa penjajahan Belanda, perlawanan rakyat Indonesia dan pahlawan-pahlawan nasional Indonesia, terbentuknya organisasi modern yang memperjuangkan Indonesia Merdeka pada awal abad ke-20, Sumpah Pemuda, Pendudukan Jepang dan Perang Dunia II, proklamasi kemerdekaan Indonesia disusul Revolusi dan Perang kemerdekaan Republik Indonesia, hingga mencapai masa pembangunan Indonesia modern. 

Relief dan patung-patung ini dibuat dari semen dengan kerangka pipa atau logam, namun beberapa patung dan arca tampak tak terawat dan rusak akibat hujan serta cuaca tropis.
  #Wikipedia

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Sudah pada akhir cerita nih...

Masih layak kan monas buat di kunjungi? Walapun terlihat sudah biasa bagi warga jakarta. tapi banyak loh orang dari luar jakarta yang antusias berkunjung ke sini.

Selain wisatawan lokal ada juga wisatawan manca negara.

dibawah sedikit informasi tentang tata tertib di Monas.

Monas, icon Ibukota yang Masih Layak dikunjungi

Thursday, May 17, 2018

Birthday Surprises from 377,297 Feet

Birthday Surprises from 377,297 Feet

Sepertinya ini edisi balasan, setelah waktu itu melakukan kejutan ulang tahun buat istri di Ancol.

     Baca : Ancol Beach City, Mall Lifestyle dengan Hamparan Pasir Putih

kali ini pun saya merasakan hal yang sama. saya mendapat kejutan ulang tahun. Malahan dari ketinggian 377,297 kaki.

           catatan: tinggi plataran puncak  monas 115 meter = 377,297 kaki

***
Weekend kemarin tidak ada hal yang berbeda, semua tampak biasa. Waktu itu saya cuma memenuhi keinginan istri untuk pergi ke Monas demi mengantar Pakde yang sedang di jakarta untuk melihat-lihat saja.

Sekeluarga kami berangkat dengan berboncengan motor. jarak rumah ke monas tidak terlalu jauh sebenarnya, cuma sekitar setengah jam kalau lancar.  Yah... namanya juga jakarta. macet bisa terjadi setiap saat.

Skip... Skip...  Skip...



Sesampainya di pelataran atas monas, di saat saya sedang asik berfoto dan bersandar di salah satu sisinya. tiba -tiba saya mendengar lagu Jamrud di stel.

Saya agak bingung...  siapa ya, yang iseng muter lagu "selamat ulang tahun-nya" Jamrud. Kencang lagi. Padahal kan gak pernah ada tuh suara selain operator tugu. sama lagu kemerdekaan yang biasa di stel di sini.

Masih bingung saat mencari suara itu berasal. tiba-tiba istri saya membawa kue dari balik tembok.

"Happy b'day to you"  Saya seketika.

Dan yang paling bikin malu lagi..  orang - orang pada ikut nyayiin lagu jamrud sambil berbaris... oh my god..  saya sampai malu.  nih orang-orang pada di bayar berapa ya sampai mau nyanyi buat saya

Tapi enggak lah... mereka ikhlas mengucapkan selamat ulang tahun buat saya.

Seneng...   iya donk..   walaupun sedikit malu sama seisi pelataran monas. Yang pada nyengir...

Suapan Kue Cintah

Birthday Surprises from 377,297 Feet

Ini suapan kue dari mertua.. yah. maklum walapun mertua. tapi udah kayak emak sendiri. kalau di suapin saat makan mah udah biasa.

Pesan mertua: Semoga menjadi suami yang lebih baik lagi, lebih soleh, bisa membimbing keluarga.  dan bisa nyari duit yang banyak.

eh.. tapi kalimat terakhir, bukan mertua yang ngomong deh kayaknya. Mungkin itu jeritan dompet yang mulai kosong. 😀
 
Terima kasih mah.. doa mu semoga terkabul.

Birthday Surprises from 377,297 Feet

Dan... yang ini... ehemm... suapan cinta dari sang istri.

Sambil berdoa, semoga bisa menjadi imam yang lebih baik lagi dan bisa membimbing keluarga di dunia dan membimbing keluarga sampai surga.
dapur makin ngebul.

Sumpah.... kalimat yang mudah di ucapkan namun berat dilakukan.  masalahnya apa? saya aja kadang masih malas ke masjid. baca alquran pun suka jarang.

Tapi ini adalah Doa dari istri tercintah.. saya cuma bisa berkata. terima kasih doanya istriku, mudah-mudahan Allah mengabulkan. Aamiin...

ralat...  itu doa dapur makin ngebul  kayaknya suara jeritan dompet saya lagi deh. 😁

jadi "FIX" bulan mei ini usia saya gedap 37 tahun sodarah - sodarah...  makin tua ya...  he..he..


Birthday Surprises from 377,297 Feet

Terima kasih juga buat kedua Anakku, pakde dan bude yang sudah meluangkan waktunya bersama saya di ketinggian 377,297 Feet.

***
Selesai acara sebetulnya saya masih binggung. Siapa sebenarnya sih yang iseng bawa speaker aktif tadi.

Usut punya usut setelah saya cek... ternyata saya yang dari pagi gembol-gembol speaker aktif. hadeuuh... pantes  tas kok rasanya penuh banget.

By the way

Thanks My Wife..    I Love U from 377,297 Feet

Monday, May 14, 2018

Avengers Infinity War, dan Penonton yang Gak Ngerti Apa-apa

Avengers Infinity War, dan Pesan Moral

Saya bukan penggemar berat super hero, tapi saya suka nonton film eksen besutan marvel ini. Apalagi anak-anak sama istri suka banget nontonnya, mau enggak mau ikutan juga deh nonton.

Saya sekeluarga sudah nonton semua seri marvel. Sekuel masing-masing super heronya. Dan Avengers pertama sampai yang terakhir ini.

eh... tapi bener gak ya nyebutnya sekuel?

Di episode terbaru ini Avengers mengusung judul Avengers Infinity War. Berikut ini sinopsis dari film tersebut.



Sinopsis Avengers Infinity War


Thanos bangkit bersama para anggota Black Order untuk mencari Infinity Stones yang dapat memberikan kekuatan maha dahsyat kepadanya untuk menguasai dunia.

Para Avengers dan sekutu mereka lalu bersatu dalam upaya untuk mengalahkan Thanos yang kuat sebelum ia berhasil menghancurkan alam semesta.
***

Kali ini saya nonton di bioskop 21(twenty one) di bekasi. Mungkin ini bioskop 21 satu-satunya karena semua bioskop 21 telah berganti nama jadi XXI.

Avengers Infinity War, dan Pesan Moral

ini enaknya kalau nonton saat weekday selain harganya murah terus yang nonton juga gak terlalu banyak. Palingan anak sekolah yang banyak.

kemarin, saya gak kebagian tiket di sabtu dan minggu, eforia avengers ini udah bikin 4 teater full untuk avengers dan kursi semuanya ludes.

terpaksa saya nontonnya di luar hari libur.

Avengers Infinity War, dan Pesan Moral

liat aja antriannya cuma segitu. masih bisa santai.

Avengers Infinity War, dan Pesan Moral

Seperti biasa, saya pesan tempat duduk yang paling belakang. tempat duduk ini menurut saya paling favorit sebab paling cepat habis. itu saya bokingnya 4 jam sebelum main. jadi abis beli tiket pulang dulu. karena cuma sekitar 15 menit jarak dari bioskop ini ke rumah.

Avengers Infinity War, dan Pesan Moral

Sebelum main biasanya ada iklan dulu yang lumayan lama. Dan momen ini di manfaatkan oleh karyawan untuk menjajakan cemilan.

Tapi untung saya bawa cemilan dari rumah.  Ehh..  padahal kan gak boleh bawa cemilan dari rumah. Kok saya bisa lolos pemeriksaan security ya? 😋

Avengers Infinity War, dan Pesan Moral

Setelah beberapa lama akhirnya film pun di mulai.

Lembaga sensor itu benar loh, film ini memang di peruntukkan untuk anak 13 tahun ke atas. Sebab ada adegan berciuman di sini, yang tidak cocok di liat anak di bawah umur.

Nonton film ini benar-benar bikin tegang, kesal juga. tapi saya kagum sama kostum Ironman yang baru. lebih soft saat berubah wujud.

dan saat kapten amerika muncul,  penonton di sebelah yang notabene anak ABG teriak..
"Anjrtiit... anjriitttt..."

Terus yang di sebelah lagi malah nonton kayak gak ngerti apa-apa.
"Itu siapa ya?"
"itu si bucky" kata temennya
"Bucky yang mana ya?"
"itu loh yang temennya kapten Amerika."
"ohh....."
"lah itu siapa lagi?"
"nah itu si kapten Amerika"
"ohh itu kapten Amerika. kok bewok?"
"gak sempet cukuran kali. he..he."
"Nah... ini. Siapa lagi nih?"

dalam hati busettt... nih bocah dari planet mana ya? 😁
****

Yang udah nonton filmnya pasti pada kesal, plus penasaran sama kelanjutannya ceritanya. dan gemes banget sama si Thanos.

saya sampai nyeletuk.
"Duh.. itu si Thanos, mau ngumpulin batu aja sampai bunuhin orang terus ngancurin planetnya. kalau cuma batu akik mah. noh.. banyak di Jatinegara." 😀

Istri saya cuma ngengir.

Tapi saya salut ternyata Si Thanos yang garang bin enggak punya hati bisa nangis juga. Saat mengambil batu jiwa. Agar batu itu bisa di tangannya dia harus mengorbankan seseorang yang di cintainya.

Dia menangis saat akan mengorbankan Gomorah.

Tapi apa yang terjadi setelah semua batu terkumpul. di akhir cerita si Thanos cuma duduk di sebuah gubuk sambil memandangi lembah-lembah.

Mungkin dia sadar, bahwa ambisinya untuk menguasai alam semesta sudah berhasil, tapi dia sebetulnya tidak punya apa-apa.

Karena semua tidak ada artinya tanpa ada orang yang di cintai. Dia sekarang sendirian. Kesepian.

Ada yang mau nemenin?