Friday, August 31, 2018

My first and Last Karnaval

My first and Last Karnaval

My first and Last Karnaval - Judulnya inggris dikit ah... biar rada gaul.đŸ˜Ŧ

Ngomongin karnaval jadi inget kisah tragis karnaval saya waktu kecil, sedihh... banget kalo inget.  Sampai sekarang aja masih kerasa kalo di inget-inget.

Beberapa minggu lalu ada acara karnaval yang di adakan di RW, pesertanya seluruh RT dalam lingkup RW, walapun ada beberapa RT yang gak hadir tapi acaranya lumayan rame.

Anak saya antusias banget saat mau ikut, ini adalah karnaval pertamanya seumur hidup. Dengan menggunakan pakaian adat papua dia semangat sekali ikut karnaval sampai enggak sabaran walapun acara belum di mulai.

"Ayo, Yah. Sudah pada kumpul di lapangan tuh" dengan sedikit berteriak penuh semangat.
saya cuma senyum aja menyemangati dan bilang  " kamu keren..."

"Semoga karnaval pertamamu gak se-tragis bapakmu nak" bisik saya dalam hati.

Karena saya masih ada kerjaan, akhirnya istri yang mengantarnya ke lapangan. Saya di suruh nyusul.

Okeh...

Acara karnaval yang di hadiri oleh beberapa RT ini menempuh jalur dari titik kumpul di lapangan senam Bigasia. Di lepas per-RT yang akan melewati jalan raya di sekitaran RW.

Awalnya saya kira jarak tempuhnya sekitar 1 kilo. Enggak taunya pas saya ukur pakai google map lsekitar 2,5 km, para ibu-ibu pun protes saat jarak sudah 2 Km dan minta potong jalur, agar lebih cepat finish.

"Bukan apa-apa Pak, ini anak-anak pada ngeluh kecapeaan" protes para ibu-ibu.

Bukan cuma mereka aja sih, istri juga ikut ngomel-ngomel.  Sebab saat jarak baru 1 kilo anak perempuan saya wajahnya udah mulai asem.

Bukan karena cape, dia ternyata aus dan laper, sebab distribusi snack lambat. Untung sang kumendan sigap dengan mengantar cemilan ayam goreng, kentang goreng, burger, kebab dan sebotol aqua.

Eh, ini cemilan apa bukan ya. he..he..



Dua kilometer pun berlalu

Dan... menjelang finish atau 500 meter sebelum titik kumpul jagoan saya tumbang, "Ayah kakiku pegel" keluhnya.

Yahh.. syudah mau bijimane lagi, sebagai layaknya "Super Dad". Dengan sigap saya menggendong si ganteng.

Saya pun senyum - senyum saat melintas di kerumunan warga yang menonton, padahal tangan saya mulai enggak kuat menahan beban si ganteng yang badannya gembul.

Baru 200 meter saya nyerah... anak saya saya biarkan jalan karena sudah mau sampai finish.

My first and Last Karnaval

Flashback ke karnaval saya dulu

Dulu sekitar tahun 1990 saat saya masih kelas satu SD, persis sama kayak anak laki-laki saya sekarang, di adakan juga karnaval di RW.

Sehari sebelumnya sepeda kecil saya pun di hias, dengan bantuan bapak dan seingat saya dengan mas Mono tetangga saya(sebab mas mono ini orangnya kreatif).

Sampai malam pun saya susah tidur, terus memandangi sepeda saya dan cek lagi kalau - kalau ada yang kurang, atau takut tiang bendera yang terbuat dari batang bambu terleps.

saya juga membayangkan keseruan apa yang akan saya alami besok.

***

Ini dia yang di tunggu-tunggu, pagi harinya selepas mandi dan berdandan rapi saya langsung meluncur dengan sepeda yang telah di hias menuju titik kumpul.

Saya seneng banget, banyak tetangga yang menyapa dan senyum liat sepeda saya. Saat berkumpul dengan teman-teman pun saya antusias. Karena saya akan punya cerita karnaval sendiri, kayak temen-temen.

Sebab teman saya yang sudah pernah ikut karnaval selalu bercerita tentang keseruan karnaval, jalur yang pernah dia lewati, dan hadiah snack dari panitia.

Kisah tragis

Panitia pun melepas para peserta karnaval sepeda hias, saya dengan semangat mengayuh sepeda, melewati jalan yang sudah di tentukan.

Oleh karena jalannya belum diaspal, (karena jaman saya kecil cuma jalan protokol aja yang sudah di aspal, jalan kampung masih tanah berbatu kerikil) dan jalurnya melewati tempat daur ulang sampah sesuatu pun terjadi dengan sepeda mungil saya.

Baru beberapa meter mengayuh, tiba-tiba ada sesuatu yang nyangkut di ban belakang sepeda, ternyata sesuatu itu adalah potongan kawat berduri yang menancap tepat di ban belakang.

Saya berhenti dan mencabut kawat tersebut. Ban sepeda pun kempes seketika


Kawan-kawan meninggalkan saya dengan sepedanya. Terus melaju tanpa menoleh, Karena mereka tidak melihat kondisi saya dengan sepeda imut yang sekarat.

Ahh... saat nulis ini aja, masih berasa sedihnya.

Panitia pun memergoki sepeda saya yang kempes.  "Kamu harus pulang, gak bisa lanjut" katanya.

Sepertinya hampir menangis saat itu, cuma saya tahan karena malu.

Saya heran, jalan ini sering saya lewati. Kenapa malah ada kawat berduri di jalan tepat di hari karnaval. Sampai saat ini saya pun masih suka bertanya

Saya pun berbalik arah sendirian... saya sedih, malu dan kecewa.

Malu karena orang yang melihat saya tertawa dan kecewa karena besok enggak punya cerita keseruan karnaval sendiri.

Naik Vespa

Sampai di rumah, orang tua pun bertanya, "kenapa pulang?"

"Ban Andi kempes. kena kawat"

Enggak inget waktu itu saya nangis atau gimana. Tapi yang saya ingat, Abis itu Bapak ngajak pergi jalan-jalan naik Vespa. Mungkin bermaksud untuk menghibur dan mengobati rasa kecewa saya.

Ahh... sudahlah, itu jadi karnaval pertama dan terakhir buat saya, sebab abis itu kayaknya enggak ada karnaval lagi di kampung Rawa Bebek tempat lahir dan besar saya. kayaknya sampai sekarang deh.

Semoga anak saya enggak se-sedih dan sekecewa saya, saat karnaval kemarin. Walapun sempat mengeluh capek.

Berikut ini beberapa foto keseruan karnaval di RW 06 kelurahan Malaka Jaya.

#MengenangMasakecil
#Curhat

My first and Last Karnaval

My first and Last Karnaval

My first and Last Karnaval

My first and Last Karnaval

My first and Last Karnaval

Tuesday, August 28, 2018

Blog Wisata Kehabisan Ide, Masa Sih?

Blogger Wisata Kehabisan Ide, Masa Sih?

Apa kamu kehabisan ide? serius? pertanyaan ini sebenarnya di tujukan ke diri saya sendiri. Sebab malu-maluin. Blog bertema wisata kesayangan alias blog jalan-jalan punya sendiri gak update-update sekitar semingguan.

Sebenarnya sebagai blogger yang menulis topik travelling kehabisan ide itu bisa aja terjadi. Di saat enggak melakukan aktifitas jalan-jalan kita jadi enggak punya bahan buat di tulis.

Nulis hal-hal di sekitar

Tapi kehabisan bahan apakah jadi alasan buat enggak nulis?

Enggak juga sih, sebab kita masih bisa posting aktifitas jalan-jalan kecil. Seperti makan bakso di pinggir jalan, jalan-jalan ke mall atau aktifitas jalan sore enggak jelas pun bisa di posting.

jadi enggak mesti travelling ke tempat wisata tertentu baru di tulis. Itu menurut saya sih.

Lantas kenapa saya enggak kunjung nulis juga?

Jawabannya adalah karena waktu.

Ya, waktu yang menjadi kendala untuk menulis. Sebagai part timer blogger atau blogger paruh waktu. Waktu menulis bisa menjadi momok.

Quality time

Disaat pukul 6 pagi harus berangkat kekantor dan jam 5 sore baru pulang kantor. Tentu waktu menulis menjadi sempit buat blogger part time. kalau enggak bisa curi waktu ngeblog di kantor

Biasanya  setelah sampai rumah, saya mandi, makan, istirahat sebentar. Lalu lanjut bermain dengan si kecil yang sudah beranjak besar hingga pukul 08.00 atau 08.30 malam.

Quality time itu perlu menurut saya.

Bermain, bercanda dan bercengkrama dengan keluarga. karena hakekat kita bekerja toh buat keluarga.

Mati lampu

Oke, waktu bermain dengan anak sudah usai.
Dan... di sisa tenaga di malam hari, saat sudah siap untuk menulis di depan laptop. tiba-tiba, pett... mendadak gelap gulita.

"Hufft...  Mati lampu" gumam saya.

Menit pun berlalu... eh... kok enggak ada senter ya? hp... mana hp?

Enggak lama istri saya pun memanggil setengah berteriak.

"Ayah.. Ayah. kalau udah ngantuk itu enggak usah ngeblog,  nyalain laptop malah di tinggal tidur." omel istri sambil membangunkan saya.

Oh... Saya pikir mati lampu... ehh.. enggak taunya saya ketiduran. đŸ˜Ģ

Masih nyaman

Kalau udah gini mending saya tutup laptop dan lanjut tidur. Masalahnya bukan pertama kali saya ketiduran kayak gini.Udah sering.

Lebih parah malah pernah sampai pagi laptop nyala. untungnya windows ada otomatis sleep yang kalau di cuekin tuh laptop bisa tidur sendiri.

Karena saya masih blogger iseng, jadi enggak update rutin enggak masalah sih (pembenaran). Dan beberapa minggu ini saya lagi mesra-mesranya sama rasa malas dan nyaman.

Tapi, enggak bisa terus-terusan begini nih. katanya mau jadi penulis hebat.
 
Cita-cita saya masih panjang, saya juga kepengen punya artikel yang banyak di blog pribadi. enggak pengen juga blognya jadi jamuran gara-gara enggak di sentuh-sentuh.

Solusinya...

Enggak ada jalan lain, satu-satunya cara adalah menulis...

Terus apalagi?  menulis...

Apalagi, ndi?  menulis lagi..

Eh, dalah....kok menulis semua?

Ya emang cuma itu satu-satunya cara biar blog update terus. menulis... menulis dan menulis...
oleh karena saya cuma punya sedikit waktu, maka saya akan ciptakan waktu khusus buat menulis.

Sayang... banget kan, sudah numpuk ide buat di jadiin tulisan. Walaupun enggak punya waktu(alesan) buat menulis, tapi buat saya foto itu harus jalan terus.

Minimal harus dapet bahan 1 foto tiap hari. Dan dari foto-foto tersebut akan terangkai kata juga cerita

Tapi waktu khusus menulis ini baru wacana ya... he..he... 😀

Tuesday, August 14, 2018

Alternatif Murah, Mengobati Patah Tulang

,
Alternatif Mengobati Patah Tulang

Mengobati Patah Tulang di tempat yang rekomended tentu jadi acuan semua orang. Selain sudah terbukti dan terpercaya ampuh, biaya yang murah tentu menjadi pertimbangan.

Senin yang lalu merupakan hari naas buat pakle saya, Beliau mengalami patah tulang kaki akibat kecelakaan antar truk dan motornya. Saat itu juga segera beliau di bawa ke ahli patah tulang.

Faktor biaya yang menjadikan alasan kenapa pakle saya tidak di bawa kerumah sakit ortopedi untuk operasi patah tulang.

Ada beberapa  ahli patah tulang yang cukup saya kenal seperti patah tulang cimande, patah tulang guru singa, patah tulang haji naim.

Tetapi ahli patah tulang Surbakti saya baru mendengarnya. Padahal lokasinya enggak jauh dari tempat saya tinggal, bahkan masih satu Kelurahan.

Lokasinya terletak di jalan SD Inpres RT 08/06 Pulo Gebang, Jakarta Timur. Patokannya enggak jauh dari bakso Sunar warung nangka. Bakso ehhmmmm ...💧😋

fokus... fokus... fokus... #glepak

Mengobati patah tulang tanpa operasi.

Ahli patah tulang yang tidak diobati, itu menurut saya setelah mendengar metode penyembuhan di sini.

Bagaimana tidak pasien tulangnya cuma di gips, lalu di suruh berbaring sepanjang hari.

Setiap sore atau menjelang magrib bagian yang patah di olesi semacam minyak patah tulang dan di berikan dua butir pil untuk di minum.

Apakah tulang bisa sembuh sendiri? saya sempat menayakan hal itu saat tau metode berobatnya  cuma diolesi minyak dan minum pil.

Bule saya bilang katanya sih nanti akan terasa seperti ada yang memijat bagian yang patah saat malam. "Bukan orang." katanya.

hiiiyy... sempet merinding dengernya.

Tapi saya berpikir realistis mungkin reaksi minyak dan pil yang diminum efeknya seperti ada yang krembut-krembut kalau orang jawa bilang.

Lama penyembuhan patah tulang di tempat ini, rata-rata sekitar 35 hari paling lama. Tapi tergantung tingkat parahnya juga.

"Waktu yang lumayan singkat di bandingkan kalau harus di operasi dan bolak-balik cabut dan pasang pen." Kata Bule saya.

Udah gitu biaya yang di keluarkan untuk kamarnya juga relatif murah. Rp 70.000 perhari untuk kelas 3, kayak di rumah sakit aja.  Sayangnya saya enggak nanya detail biaya berobatnya.

"Tapi betenya enggak ketulungan" kata bule saya. iya juga sih, karena beliau biasa modar-mandir di kantin. Kalau di suruh  nunggu kayak gitu tentu akan bosan.

Saat berkunjung kemarin, saya sempat ngobrol dengan salah satu pasien asal Sunter yang sedang duduk di bangku teras. Beliau mengalami cedera tulang belakang.

"Saat hari pertama masuk tulang belakangnya langsung di urut dan setelah itu cuma di olesi minyak, minum obat dan istirahat." katanya. Total sudah 28 hari dia nginap di ahli patah tulang ini, dan sekarang sudah jalan walau masih pakai alat bantu.

Namanya juga pengobatan alernatif tentu cara mengobati patah tulangnya berbeda dengan rumah sakit.

Masalahnya tinggal mau atau tidak untuk tinggal dan istirahat total kurang lebih 35 hari di tempat ini.

Hidup adalah pilihan, guys. 😀

Di bawah ini, saya sertakan suasana di tempat pengobatan tersebut.

Eeitts... saya bukan sedang di endorse ya ( kalau ada sih, saya enggak nolak 😁). Saya cuma berbagi pengalaman dan informasi mungkin suatu saat ada yang membutuhkan.

Mudah-mudahan kita dan orang yang kita cintai selalu sehat walafiat.
Aamiinn...

Alternatif Mengobati Patah Tulang

Alternatif Mengobati Patah Tulang

Alternatif Mengobati Patah Tulang

Alternatif Mengobati Patah Tulang

Alternatif Mengobati Patah Tulang

Wednesday, August 1, 2018

Danau Sunter, Kampung Warna-Warni dan Wisma Atlit Asian Games Memanjakan Mata

Danau Sunter, Kampung Warna-Warni dan Wisma Atlit Asian Games Enak di Lihat

Danau Sunter Sekarang Enak di liat dan pandang. Selain danaunya yang sekarang bersih, wisma atlit yang berwarna-warni juga membuat mata ini di manja.

Ini adalah pemandangan pagi hari di danau sunter, yang bersebelahan dengan wisma atlit Asian Games. Saat berangkat ke kantor dan melewatinya saya selalu memandanginya.




Saya suka dengan warna-warni wisma atlitnya. Dan pagar pembatas danau juga diwarnai serupa wisma atlit. Selain trotoarnya yang sudah di perbaiki di pinggir danau juga di buat taman-taman.

Di pinggiran danau sunter bisa duduk-duduk santai di kursi taman,  bisa juga jogging di trotoar yang sudah di beri trek khusus.

Danau Sunter, Kampung Warna-Warni dan Wisma Atlit Asian Games Enak di Lihat

Namun saya masih penasaran dengan gundukan tanah seperti pulau di tengah danau sunter ini, sebetulnya itu tempat apa sih?

Apakah makam? karena bagian itu tidak di keruk dan di biarkan. Gundukan tanahnya juga di tumbuhi pepohonan mirip sebuah pulau.

Ada yang tahu ini tempat apa?

Danau Sunter, Kampung Warna-Warni dan Wisma Atlit Asian Games Enak di Lihat

Saya sebetulnya terinspirasi sama yang punya ngayap dot com. Setelah Idris Hasibuan memposting fotonya sedang narsis duduk di pinggir danau, saya jadi tertarik buat memotret perkampungan warna-warninya.

Yang ternyata bagus saat terlihat di foto, beda sama kalau liat aslinya. 😀

Tapi jujur, danau sunter jauh lebih rapih dan enak di pandang sekarang. Ketimbang tiga tahun yang lalu, yang pinggiran danaunya masih amburadul.

Buat yang mau wisata ringan dan gratis danau sunter saya rekomendasikan. Dan buat para mancing mania, persiapkan alat memancingmu guys.

Yang jelas danau Sunter, kampung warna-warni dan wisma atlit Asian Games enak di lihat dan Pandang, itu kata saya loh.